Hamemayu Hayuning Bawana: Praktik Baik dalam Menjaga Ekosistem Pertanian Berkelanjutan untuk Konservasi Tanah di Lereng Merapi-Merbabu Boyolali

Hamemayu Hayuning Bawana: Praktik Baik dalam Menjaga Ekosistem Pertanian Berkelanjutan untuk Konservasi Tanah di Lereng Merapi-Merbabu Boyolali

Fenomena perubahan iklim yang terjadi saat ini semakin mengkhawatirkan serta memicu dampak yang lebih luas. Hal itu terlihat dari berbagai peristiwa alam terkait iklim, dari suhu udara yang lebih panas, terganggunya siklus hidrologi, hingga maraknya bencana hidrometeorologi di Indonesia seperti banjir, longsor dan ancaman bencana kekeringan. Kementerian Kehutanan RI telah menetapkan luas lahan kritis di Indonesia pada 2024 melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 406 Tahun 2025 tentang Penetapan Lahan Kritis Nasional yaitu seluas 12,29 Juta Hektare.

Kabupaten Boyolali merupakan penyumbang yang cukup tinggi dimana jumlah lahan lahan sangat kritis dan kritis yaitu sebesar 8.199,71 Hektar dan kategori agak kritis dan potensi kritis 23.135,55 Hektar. Kondisi banyaknya lahan kritis di Kabupaten Boyolali seharusnya mampu dicegah dengan potensi yang dimiliki, dimana boyolali merupakan centra peternakan sapi potong dan perah yang mencapai 135.285 ekor sapi (BPS,2024). Kotoran sapi yang dihasilkan harusnya mampu menekan laju degradasi lahan, dengan mengintegrasikan on farm (pertanian) dan off farm (peternakan) dalam system budidaya pertanian yang berkelanjutan. 

Kecamatan Selo termasuk sentra sapi dengan populasi 8.916 ekor, tetapi potensi itu tidak berbanding terbalik dengan jumlah luas lahan kritisnya. Kecamatan Selo luas Kawasan budidayanya 4.461,5 Hektar kondisi lahan kritisnya mencapai 4.050,9 Hektar atau mencapai 90,8 % (BPDAS Pemalijratun), hal ini dipengaruhi kecamatan selo berada di ketinggian 1.200 – 1.500 DPL  dengan kemiringan lahan yang dominan curam berkisar antara 25% hingga lebih dari 45%, membentang di antara lereng Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Beberapa factor tingginya lahan kritis di kecamatan Selo adalah sebagai berikut :

  1. Mayoritas lahan digunakan untuk tanaman sayuran diantaranya wortel, kubis, brokoli, tomat, selada, pakcoy dimana jenis tanaman ini tidak bisa optimal pertumbuhannya bila ada naungan pohon besar. Para petani tidak lagi menanam tanaman tegakan dilahan, karena berpandangan bahwa tajuk rimbun pohon akan menghalangi intensitas matahari yang diterima oleh tanaman pokok sehingga produktivitas tanaman pokok akan berkurang.
  2. Model pertanian monokultur dan penggunaan bibit unggul yang mensyaratkan perawatan dengan menggunakan pestisida dan pemakaian pupuk kimia yang dikenalkan oleh pemerintah secara bertahun-tahun menjadi pemicu kritisnya lahan.
  3. Banyak petani menerapkan pola budidaya dengan melawan kontur gunung (tidak terasiring), metode ini akan semakin mempercepat lapisan tanah bagian atas terbawa air hujan dengan membawa material tanah ke hilir.
  4. Perkembangan wisata berdampak juga pada berkurangnya lahan-lahan pertanian menjadi coffe shop dan  homestay. 
  5. Penambangan material pasir dan batu yang cukup tinggi di wilayah gunung Merapi semakin memperparah degradasi lahan di kecamatan Selo.

Situasi konservasi lahan yang semakin memburuk dari tahun ke tahun akan berdampak pada menurunnya tingkat kesejahteraan petani di kecamatan Selo, hal ini bisa dilihat dari jumlah warga miskin yang terus bertambah dimana tahun 2011 mencapai 3.659 KK dengan 13.479 jiwa dan terjadi peningkatan pada tahun 2020 mencapai 4.087 KK dengan 14.062 Jiwa. 

Situasi itu membuat anak-anak muda yang tergabung dalam Forum Pemuda Selo (FPS) tergerak untuk menghidupkan Kembali nilai filosofi Jawa  “Memayu Hayuning Bawana” merupakan suatu akar kearifan lokal masyarakat Jawa tentang pentingnya menjaga keseimbangan manusia dengan alam. falsafah hidup untuk menjaga, merawat, dan melestarikan keselamatan serta keindahan alam semesta beserta isinya, menjadi semangat untuk mendorong tanaman tegakan sebagai fungsi konservasi tanah. Keterbatasan lahan dan karakteristik tanaman sayur akan menurun bila kena tajuk pohon yang terlalu rindang, telah berdampak pada hilangnya tanaman tegakan yang selama ini menjadi pelindung tanah. Kopi menjadi pilihan tanaman tegakan yang ditumpangsari dengan sayuran, dibandingkan dengan tanaman keras yang dipanen kayunya. Dengan pola tanam kopi dengan jarak 4 M X 5 M, hasil pengamatan sudah memiliki bebarapa dampak khususnya kopi yang ditanam sejak tahun 2018 diantaranya adalah :

• Konservasi Tanah: Akar tanaman tegakan mengikat struktur tanah di lereng curam agar tidak mudah longsor, hal ini bisa dilihat dari struktur tanah yang semakin gembur dari tahun ke tahun.

• Windbreaker (Pemecah Angin): tanaman kopi juga memiliki dampak meminimalisir rusaknya tajuk tanaman sayur tumpangsari di bedengan akibat dari kecepatan angin kencang dari puncak gunung..

• Manajemen Naungan: Membantu mengatur intensitas cahaya matahari langsung yang terlalu terik pada siang hari di dataran tinggi, sehingga tanah mampu dijaga kelembabannya.

Potensi kotoran sapi yang tinggi di kecamatan Selo, sudah seharusnya dioptimalkan untuk mengupayakan perbaikan pada lahan kritis sekalgus mendorong ekonomi sirkular berbasis konservasi tanah dengan mengintegrasikan antara on Farm dan Off farm. Model ekonomi sirkular seperti ini selain perlindungan terhadap konservasi tanah juga akan menghasilkan tanaman pangan yang sehat karena diolah secara organic.

Ditulis Oleh : Zakaria

Koordinator program iklim JALATERA & pendamping FPS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *