Dampak Covid-19 ditahun 2020 sampai sekarang membuat para perempuan khususnya ibu-ibu di Desa Sendang Kabupaten Wonogiri berfikir keras untuk meningkatkan pendapatan keluarga agar dapur tetap mengepul. Ditutupnya Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur karena revitalisasi dan gagal panen karena serangan hama monyet menambah masalah baru yang memperburuk kondisi ekonomi masyarakat khususnya keluarga. Tahun 2021, Yayasan Jalatera melalui program Pemetaan Kemiskinan Partisipatif di Desa Sendang mampu melihat secara menyuluruh kondisi masyarakat di Desa Sendang baik dari jumlah masyarakat kurang mampu, potensi, masalah dan kendala yang dihadapi baik dari ekonomi, infastruktur, kesehatan maupun permukiman.

Dari segi Ekonomi, ditemukan banyak perempuan Desa Sendang yang di PHK dari pabrik konveksi, selain itu para ibu-ibu yang biasa bekerja sebagai penjahit orderan baru mengalami sepi orderan karena tidak ada yang menggunakan jasa jahitnya, dimana yang biasanya seminggu menjahit 7-10 pakaian, tapi di masa Pandemi Covid ini sama sekalia tidak ada orderan, karena tidak ada masyarakat yang punya gawe. Kemudian melihat potensi SDM yang melimpah dan tidak berdaya membuat teman-teman dari Yayasan Jalatera berfikir bagaimana memberdayakan perempuan-perempuan yang pintar menjahit. Belajar dari pengalaman pemberdayaaan ekonomi di Kelurahan Tipes Kota Surakarta yaitu meningkatkan ekonomi keluarga melalui pengelolaan kain perca menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi, akhirnya pengalaman itu direplikasikan di Desa Sendang.

Tahun 2022, perempuan Desa Sendang yang bisa menjahit dikumpulkan di Balai Desa Sendang dan diberikan pelatihan membuat daster dari kain perca. Pelatihan dilakukan selama 3 hari dan diikuti kurang lebih 20 penjahit. Tidak sulit melatih mereka karena mereka sudah punya bekal ketrampilan menjahit. Dalam pelatihan mereka membuat 3 model daster yaitu, daster untuk ibu menyusui, daster U Can See dan daster tali.

Karena ibu-ibu hanya memiliki mesin jahit kecil maka berdampak pada proses jahit yang lambat. Kemudian Jalatera melalui sistem revolving found memberikan bantuan 8 mesin jahit kepada para ibu-ibu. Dan dibentuklah kelompok usaha bersama bernama “KUBE Sendang Berimbang” dan “Kelompok Jahit Perca Sendang Jaya”. Dalam meningkatkan produktivitas, di pertengahan tahun 2022 kelompok mendapatkan bantuan dari AMBISSI senilai 15 juta untuk pembelian mesin obras dan modal tambahan untuk pembelian bahan baku.

Per Juli 2022 , dari hasil pelatihan dan bantuan mesin jahit, kelompok mampu memproduksi 250 potong daster dan terjual sejumlah 150 pcs daster non obras dengan keuntungan bersih senilai Rp 450.000,-. Kemudian di bulan Agustus sampai Oktober 2022, kelompok mampu memproduksi 200 pcs daster dimana 150 pcs daster yang sudah diobras terjual. Karena ada jasa obras maka keuntungan semakin bertambah 1500/pcs. Jadi laba bersih senilai Rp. 1.875.000,-. Ternyata dengan adanya mesin obras kualitas produk semakin bagus dan nilai jual menjadi tinggi sehingga keuntungan juga meningkat.

Di akhir tahun 2022, kelompok mendapatkan bantuan tahap ke-2 dari AMBISSI senilai 10jt untuk digunakan deversifikasi produk dari kain perca. Disini kelompok dilatih dan diajak membuat souvenir dari kain perca. Kenapa harus souvenir? Karena dengan souvenir kelompok bisa memiliki variasi produk dan bisa dijual di Obyek Wisata Waduk Gajah Mungkur kedepannya. Karena saat ini Waduh Gajah Mungkur baru pada tahap revitalisasi yang akan diperkirakan selesai tahun 2024. Pelatihan dilakukan selama 3 kali dalam satu bulan dengan mendatangkan ibu-ibu komunitas dampingan dari Koperasi Sekar Mulyo Banjarsari Surakarta. Peserta sangat antusias dan mampu membuat produk kurang lebih 10 jenis produk souvenir yang sudah layak jual. Setelah pelatihan ibu-ibu bertambah semangat karena setelah pelatihan ibu-ibu mendapat orderan dari masyarakat yang akan mengadakan hajat.

Dalam rangka meningkatkan pendapatan kelompok, maka bagian produksi dan pemasaran harus didorong agar banyak konsumen tahu dan membeli produk dari kelompok. Selain mengandalkan pasar lokal, kelompok harus memiliki toko online diberbagai market place. Agar bisa bersaing di market place, kelompok harus diperkuat dalam tata kelola usaha (menejerial usaha, menejerial kelompok, pengelolan keuangan, dll). Selain itu agar kelompok bisa bertanggungjawab, maju dan bisa berkembang kelompok harus didorong menjadikan koperasi. Selain itu produk harus mempunyai merk resmi sehingga bisa dikenal masyarakat untuk branding dan lebiih dipercaya dan masih banyak lagi.

Kedepan pendampingan akan menjadi penting untuk mengembangkan kelompok agar maju dan mampu mengikuti perkembangan pasar. Selain pendampingan dibutuhkan juga peningkatan kapasitas seperti pelatihan-pelatihan dengan mendatangkan para trainer atau narasumber yang berpengalaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *