Sejak munculnya wabah Covid 19 yang terjadi di Indonesia, memiliki dampak luar biasa juga terhadap sumber penghidupan masyarakat Desa Sendang. Sejak bulan Juni 2020 Wisata waduk Gajah Mungkur, dan Wisata alam Desa (Watu Cenik dan paralayang Joglo) ditutup oleh Pemerintah Kabupaten. Dengan ditutupnya obyek wisata tersebut, warga yang mengandalkan hidupnya dari sektor pariwisata mengalami guncangan ekonomi yang luar biasa. Baik kelompok masyarakat yang berjualan di dalam obyek wisata (Souvenir, Makanan ringan, oleh-oleh) dan Restoran serta penginapan di sepanjang jalan Raya waduk juga mengurangi karyawan karena sepinya pembeli serta pengunjung yang menginap. Lesunya ekonomi juga berdampak pada penghasilan warga sendang yang bekerja sebagai buruh bangunan dan penambangan batu, yang biasanya dilakukan oleh petani pada saat tidak musim tanam.

Sebagai upaya mendorong tumbuhnya perekonomian masyarakat, dibutuhkan kesiapan warga dalam melakukan penataan usaha yang diharapkan bisa sustainable baik pasca covid maupun pasca tempat wisata dibuka. Yayasan Jalatera melalui program ketahanan pangan mendorong Kolompok Wanita Tani “Kembang Impian” Dukuh Kembang,Desa Sendang untuk meningkatkan produktivitas dengan memanfaatkan lahan pekarangan yang tidak terpakai dengan mengolah lahan demplot sebagai media belajar. Anggota KWT berjumlah 31 orang dan pertemuan kelompok dilakukan setiap 1 bulan sekali.

Dalam kurun waktu kurang lebih 1 tahun aktivitas besar yang sudah dilakukan Kelompok Wanita Tani “Kembang Impian” adalah melakukan budidaya lele dan budidaya tanaman sayur menggunakan sistem semi hydroponik. Dari budidaya tanaman sayur rata-rata anggota kelompok bisa memenuhi kebutuhan sayuran tanpa harus membeli sebesar Rp. 5.000,- sampai dengan Rp. 7.000,- setiap harinya. Kalau dikalkulasi dalam satu bulan, setiap keluarga bisa menghemat biaya belanja harian sebesar Rp. 150.000,- sampai dengan 210.000 Ribu. Sedangkan dengan budidaya lele kelompok panen 1 kali sebesar Rp. 2.550.000,-. Dimana uang tersebut digunakan kembali untuk upaya pembibitan baru. Tidak semua hasil panen lele dijual pada tahap awal, sebagian dibagi pada anggota kelompok untuk pemenuhan gizi anggotanya.

Bagi masyarakat sekitar dengan adanyanya kegiatan tersebut semakin banyak warga tertarik untuk belajar budidaya tanaman sayuran dengan semi hidroponik dan optimalisasi pekarangan. Tercatat sudah ada penambahan 20 warga yang memanfaatkan lahan pekarangannya untuk budidaya sayur. Selain itu kelompok juga sudah menerima kunjungan studi banding dari kampung Keluarga Berencana desa lain yaitu Desa bulusulur dan desa Ngadirojo yang tertarik untuk pengembangan lahan pekarangan dengan pemanfaatan botol bekas.

Selain itu Hasil evaluasi kegiata, menunjukkan kemampuan kelompok dalam budidaya sayur cukup tinggi, sehingga ada keinginan seluruh anggota untuk mengembangkan dalam kerangka bisnis. Pertimbangan ini diambil karena banyaknya potensi restoran disepanjang waduk Gajah mungkur sebanyak 20 restoran, kebutuhan sayur khususnya selada, kangkung , lombok dan brambang cukup tinggi. Gagasan ini kemudian dikomunikasikan dengan Desa pada saat musyawarah perencanaan pembangunan Desa (Musrenbangdes). Disepakati Dana Desa akan mendukung kegiatan kelompok untuk skala bisnis dan telah disetujui anggaran pengembangan sebesar Rp. 20.000.000,- (Dua Puluh) Juta untuk tahun anggaran tahun 2022. Sudah ada 3 restoran yang berkomitmen untuk membeli produk kelompok, dan direncanakan kepala desa akan mengundang seluruh pemilik resto untuk bisa membeli produk petani.

Selain itu komitmen dari dinas pertanian kabupaten, akan mendukung gagasan pengembangan ini. Untuk mengakses anggaran APBD, dibutuhkan legalitas kelompok dalam bentuk Badan Hukum yang ditetapkan oleh BUPATI. Di dusun kembang dibentuk kelompok tani dan kelompok Wanita Tani (KWT) dan saat ini sudah proses kepengurusan legalitas di Kabupaten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *