Desa dan Kebudayaan

JALATERA.-Desa telah menjadi suar pembangunan nasional, keberpihakan rezim Presiden Jokowi melalui kementerian desa, serta dana desa seolah menjadi gambaran ke arah mana pembangunan nasional ini ingin dibawa. Tentu keberpihakan tersebut tidak langsung menghapus wajah kemiskinan, gurat ketertinggalan, serta aroma tak sedap yang selama ini berhembus dari gambaran desa. Kompleknya persoalan di desa menjadikan kebudayaan menjadi altar pembangunan agar persoalan dan tantangan pembangunan desa dapat diatasi.

Kebudayaan menjadi sebuah media untuk menjawab masalah-masalah yang ada, di mana konsep kearifan semacam ini kini diabaikan bahkan ditinggalkan. Dan kita bisa mengevaluasi kembali serta merekontruksi praktik-praktik kebudayaan yang telah kita miliki. Karena memang ruang-ruang kebudayaan masih berdenyut di sudut-sudut daerah di lorong-lorong negeri ini, maka memanggil kembali kekayaan kebudayaan yang kita punya untuk diberikan panggung menjadi noktah penting.

Kebudayaan dalam konteks pembangunan desa, terafirmasi lewat antusiasme budaya dan bara lokalitas desa. Artinya, konsep-konsep agung masih mereka jalankan hingga sekarang. Salah satu contoh di dalam salah satu kebudayaan pertanian, yaitu sistem “Subak”. Berpedoman karena sedikit harus berbagi dan itu yang perlu diterapkan sekarang ini. Prinsipnya, keterbatasan bukanlah palagan persaingan atau ladang perebutan, namun keterbatasan haruslah bisa dibagi dengan adil. Rasa berbagi tersebut harus dihidupkan kembali. Terlebih saat ini ketika sumber daya alam tidak semakin bertambah justru berkurang.

Di sisi lain, masyarakat yang mengunakan terus membiak. Dengan semangat berbagi seperti itu akan menjadikan anugerah dari alam bukan pemicu konflik namun menjadi sumber kesejahteraan bersama. Konsep kebudayaan lain yang masih menyala antara lain sistem transaksi dalam ruang budaya atau pasar tradisional, yakni bukan keuntungan, laba, atau profit sebagai muara. Namun persaudaraan, teman baru atau pun kekerabatan ufuk yang selalu ditatap dalam detak pasar tradisional. Hal ini diimani dalam pepatah Jawa: thuna sathak bathi sanak, yang artinya: meski rugi tapi untung saudara baru (sanak). Ini sebuah kearifan lokal yang luhur. Tentu ini bukanlah romantisme terhadap masa lalu, menghidupkan kembali bukan dalam bentuk yang lama, namun mengalami perubahan bentuk dengan kearifan lokal yang masih dipertahankan sehingga dapat membantu mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi. Konsepnya yang diadaptasi dan diterapkan dengan masa sekarang.

Merawat dan menyuburkan praktik-praktik budaya menjadi cawan menumbuhkan akar yang kuat terhadap pembangunan desa. Dimana kemudian tumbuh menjadi batang dan ranting yang kokoh pada setiap lini pembangunan nasional. Memang setelah lebih dari 71 tahun merdeka, telah banyak memproduksi keberhasilan, baik yang dirasakan khalayak domestik maupun publik . Namun, ukuran keberhasilan itu lebih berdasarkan norma yang diterima umum sehingga parameter yang bersumber dari spirit kebersamaan dalam praktik-praktik kebudayaan tak banyak mendapatkan ruang. Implikasinya, jarak antara pencapaian pembangunan dan kebutuhan masyarakat lokal bisa berpunggungan.

Pusaran Nilai

Saat konsep-konsep kebudayaan telah menjadi denyut spirit dalam menjalani kehidupan, hal ini akan menghadirkan nilai-nilai yang mampu menjadi akar untuk menumbuhkan keberlanjutan pembangunan yang tangguh.

Nilai partisipasi dapat hadir utuh karena digerakkan dengan dorongan kebersamaan. Kebersamaan juga merupakan inti persaudaraan di mana nilai ini masih sangat kuat di masyarakat desa. Dari sini relasi pembangunan tidak menjadikan isolasi antarkelas hingga menjadi gelanggang pertarungan. Oleh karena itu, nilai partisipasi seolah menjadi alarm pengingat bahwa pembangunan mesti menjadi pengungkit nilai kebersamaan dan bukan panggung persaingan.

Nilai toleransi pun tampil dari sini juga merupakan pangkal bahwa meyakini sumber pembangunan adalah spiritualitas. Nilai toleransi sebagai mata air spiritualitas tertinggi, dan akan akan mengalirkan

 

Penulis : Kun Prastowo

Desa dan Kebudayaan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *